Miftah Rela Didiskualifikasi, Demi Bela Jilbabnya

Miftahul Jannah (21) rela didiskualifikasi dari pertandingan judo kelas 52 kg blind judo Asian Para Games, demi mempertahankan jilbabnya.

Diskualifikasi itu karena perempuan yang akrab disapa Miftah itu memakai jilbab. Juri, berlandaskan aturan, meminta Miftah melepas jilbab. Miftah yang berasal dari Aceh, dengan tegas menolak, hingga akhirnya ia didiskualifikasi.

Miftah sempat bersedih. Pada Senin (8/10), Miftah tak bisa bertanding membela Indonesia. Miftah berkukuh tetap memakai jilbab untuk menutupi auratnya.

“Dia mendapatkan diskualifikasi dari wasit karena ada aturan wasit dan aturan pertandingan tingkat internasional di Federasi Olahraga Buta Internasional (IBSA) bahwa pemain tidak boleh menggunakan jilbab dan harus lepas jilbab saat bertanding,” kata penanggung jawab pertandingan judo Asian Para Games 2018, Ahmad Bahar, seperti dikutip dari Antara.

Bahar mengatakan, Miftah enggan melepas jilbab, ketika bertanding karena tidak mau auratnya terlihat lawan jenis.

“Kami sudah mengarahkan atlet, tapi dia tidak mau. Bahkan, dari Komite Paralimpiade Nasional (NPC), tim Komandan Kontingen Indonesia sudah berusaha dan mendatangkan orang tua dari Aceh untuk memberi tahu demi membela negara,” katanya tentang dukungan kepada atlet tunanetra itu.

Atlet berusia 21 tahun itu, menurut Bahar, telah menginjak matras pertandingan dan enggan melepas jilbab pada pertandingan kelas 52 kilogram.

“Hal yang perlu ditekankan adalah juri bukan tidak memperbolehkan kaum muslim untuk ikut pertandingan. Aturan internasional mulai 2012, setiap atlet yang bertanding pada cabang judo tidak boleh berjilbab karena dalam pertandingan judo ada teknik bawah, dan jilbab dianggap akan mengganggu,” ujarnya

Namun, keputusan Miftah itu, justru mendapat dukungan dari para netizen di Indonesia. Warga net justru memberi apresiasi atas keputusan itu. “Saya rela dicoret, daripada harus melepaskan jilbab,” ujar Miftah

Menurut Miftah, jilbab baginya adalah peneduh dan pelindung bagi kaum hawa. Jadi, ia lebih bangga terlihat hebat di mata Allah ketimbang bangga di mata dunia. “Setidaknya, saya telah mampu mengendalikan diri saya, agar hebat di mata Allah SWT,” kata Miftah.

Mantan atlet catur yang telah banyak mengikuti kejuaraan tingkat nasional itu meminta maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia, yang tidak bisa memberikan gelar juara pada Asian Para Games tersebut.

“Mohon maaf, tapi apa yang saya lakukan, adalah bentuk harga diri dan menjaga marwah masyarakat Aceh, yang dikenal dengan syariat Islam. Saya tidak ingin, menggadaikan, harga diri dan martabat Aceh, hanya untuk gelar juara semata,” tutup mantan siswi¬†SLBN A (SMA) Kota Bandung itu.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *