Adek Berry, Jurnalis Foto Yang Tangguh di Medan Perang

Fokus dan konsisten dengan apa yang dilakukannya, menjadi kunci sukses Adek Berry, jurnalis foto perempuan yang kerap meliput di wilayah konflik.

Perempuan kerap diidentikkan dengan kasur, dapur dan sumur. Berdiam diri di rumah, mengurus rumah, anak dan suami. Harus bisa masak, mencuci, dan seabrek pekerjaan rumah tangga lainnya. Tidak boleh ini, tidak boleh itu.

Bahkan kalimat “ngapain perempuan sekolah tinggi kalo nanti bakal ke dapur juga” masih sering terdengar di masyarakat kita. Sebuah kalimat yang mampu mengkerdilkan kepercayaan diri sebagai perempuan.

Tapi itu semua tidak berlaku untuk Adek Berry, seorang perempuan yang memilih menghabiskan hidupnya dengan menjadi jurnalis foto. Sebuah pekerjaan kemanusiaan yang penuh resiko. Dalam Workshop Festival Media yang bertajuk Jurnalis Meliput Konflik yang digelar Jum’at (21/9/2018) Adek Berry berbagi kisah liputannya di medan konflik.

Pada workshop ini Adek bercerita mengenai bagaimana risiko menjadi jurnalis foto. Baik meliput konflik di dalam negeri maupun di luar negeri. Mulai dari konflik bencana alam, pengeboman, hingga peperangan, sudah pernah dilakukannya. Mulai dari konflik di Ambon hingga konflik perang di beberapa wilayah Asia Timur seperti Afganistan, Kabul dan wilayah lainnya.

Ada dua jalan bagaimana jurnalis dalam meliput konflik, independent dan embedded. Independent tentunya bekerja sendiri sedangkan embedded merupakan jurnalis yang bekerja bersama orang lapangan, seperti tentara di medan perang.

Menjadi jurnalis independent tentunya lebih bebas dalam mengambil keputusan. Sedangkan embedded, harus mengikuti peraturan yang telah ditentukan. Misalnya meliput dengan pakaian yang tidak mencolok, menggunakan pakaian yang berwarna kalem seperti warna pasir atau tanah.

Sebagai perempuan dan menjadi jurnalis foto di medan konflik, menurutnya bukanlah hal yang istimewa. Penuh resiko, harus hati-hati dan penuh perhitungan. Lengah begitu saja, bisa menjadi korban penculikkanm bahkan bisa meregang nyawa akibat ranjau yang tersebar dimana-mana.

Meliput seperlunya saja, jika tidak ingin menjadi korban peluru para sniper. Patuh prosedur dan mengikuti apa yang diucapkan kepala biro, adalah beberapa cara untuk selamat dalam meliput konflik.

Adek membagikan tips yang harus disiapkan untuk menjadi jurnalis dalam meliput konflik. Di antaranya dengan cara mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang daerah dan apapun yang menyangkut konflik tersebut. Harus up to date dengan segala kondisi. Bangun koneksi dengan jurnalis di daerah yang bersangkutan. Dan mencari tahu adalah hal yang wajib dilakukan oleh jurnalis.

Adek Berry merupakan sosok nyata perempuan yang berdedikasi dalam hidupnya. Bukanlah pekerjaan ringan menjadi jurnalis konflik. Tapi apa yang dilakukannya itu adalah sebuah panggilan hati, misi kemanusiaan. Memang benar apa yang sering terdengar, menjadi jurnalis itu bukan pekerjaan, tapi sebuah panggilan.

“Saya juga bingung ketika ditanya mengapa saya mau meliput di daerah konflik. Saya hanya berpikir, I have to” ujarnya.

 

Penulis: Gheby Mahas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *